Sistem Bioflok Dinilai Salah Satu Cara Paling Ampuh Membudidayakan Ikan Lele di Pemukiman



Foto : Pembudidaya ikan lele sistem bioflok, Tugiman (53) asal Kelompok Tani Ikan Mina Ngremboko, Desa Kranggan Galur Kulonprogo, tengah memberi makan ikan-ikannya Rabu (15/01/2020). Foto: Jatmika H Kusmargana

www.depapuyu-farm.com, YOGYAKARTA — Pemanfaatan sistem bioflok dinilai menjadi salah satu cara paling ampuh untuk membudidayakan ikan lele di wilayah pemukiman.

Selain lebih irit dari sisi pemanfaatan lahan dan biaya, juga dinilai lebih ramah lingkungan karena tidak menimbulkan polusi udara berupa bau yang menyengat.

Sistem bioflok pada budidaya ikan lele sendiri sudah dikenal di Indonesia sejak beberapa tahun belakangan.

Memanfaatkan kolam terpal berbentuk bundar yang dibangun di atas permukaan tanah. Yakni dengan cara mengolah limbah ikan lele sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan polusi secara berlebihan.

Salah seorang pembudidaya ikan lele sistem bioflok, Tugiman (53) asal Kelompok Tani Ikan Mina Ngremboko, Desa Kranggan Galur Kulonprogo, mengaku telah membuktikan hal tersebut.

Selama 2 tahun terakhir ia dan kelompoknya beranggotakan 10 orang melakukan budidaya lele dengan memanfaatkan sedikitnya 61 kolam ikan.

“Awalnya banyak masyarakat sekitar sini yang khawatir keberadaan kelompok budidaya ikan lele ini akan menimbulkan polusi berubah bau. Tapi setelah kita jelaskan mereka akhirnya mau mengerti. Buktinya hingga sekarang tidak ada bau menyengat di sekitar kolam budidaya,” katanya kepada Cendananews Rabu (15/01/2020).

Dijelaskan Tugiman, kunci budidaya ikan sistem bioflok sendiri terletak pada rutinitas penggantian air yang dilakukan setiap hari.

Pergantian air secara rutin inilah yang membuat limbah kotoran ikan bisa terbuang secara kontinyu, dan tidak menumpuk pada kolam sehingga menimbulkan bau menyengat.

“Jadi setiap hari air kolam harus kita buang sebagian. Dengan cara membuka katup pembuangan di bagian bawah kolam. Dari situ kotoran ikan akan teralirkan keluar dan masuk ke filter penampungan untuk diolah lagi sebelum akhirnya dibuang,” ungkapnya.

Untuk mengganti air kolam yang sebagian terbuang tadi, maka kolam biofkok harus terus dialiri air baru/air bersih secara kontinyu.

Tugiman sendiri memanfaatkan 2 buah tandon air untuk mensuplai air baru ke kolam-kolamnya. Suplai air baru ini dilakukan dengan intensitas kecil, namun secara terus menerus, sehingga bisa memberikan suplai oksigen ke dalam kolam.

“Selain itu, pakan berupa pelet yang diberikan pada ikan juga harus difermentasi terlebih dahulu. Sehingga dapat dicerna secara sempurna oleh pencernaan ikan, dan tidak menimbulkan bau yang berlebihan,” ungkapnya.

Kolam bioflok berukuran diameter sekitar 2 meter sendiri bisa dimanfaatkan untuk memelihara ikan lele mecapai 3.000-3.500 ekor.

Selama jangka waktu kurang lebih 100 hari, satu kolam bioflok bisa menghasilkan panen mencapai 3 kwintal. Yakni dengan kebutuhan pakan sekitar 100 kilo per 1,000 bibit.

Dengan harga jual pasaran ikan lele Rp22ribu, maka pengasilan kotor yang didapat dari 1 kolam bioflok bisa mencapai Rp6 juta lebih.

Salam Semangat Bioflok dari Kami de’PAPUYU Farm Banjarbaru.
www.depapuyu-farm.com

Sumber : https://www.cendananews.com/2020/01/sistem-bioflok-solusi-budidaya-lele-di-pemukiman.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *