berita

Rasakan Manfaat yang Berlipat Dari Budidaya Ikan Nila Sistem Bioflok

www.depapuyu-farm.com, Jakarta – Upaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan teknologi bioflok untuk budidaya ikan nila semakin dirasakan manfaatnya oleh pembudidaya ikan. Kini keberhasilan budidaya yang mereka lakukan meningkat signifikan. Hal tersebut tampak dari kelangsungan hidup atau survival rate (SR) ikan mampu mencapai hingga 90%.

Selain itu, tingkat penggunaan pakan semakin efisien, dimana nilai feed conversion ratio (FCR) mampu mencapai 1,05 artinya untuk menghasilkan 1 kg ikan nila hanya dibutuhkan 1,05 kg pakan. Angka ini menurun drastis jika dibandingkan dengan pemeliharaan di kolam biasa dimana FCR-nya mencapai 1,5. Kepadatan juga meningkat tajam, yakni sebanyak 100 ekor/m3 atau 10 kali lipat dibandingkan dengan sistem konvensional hanya 10 ekor/m3.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, mengungkapkan hal tersebut saat dimintai keterangannya di Jakarta, Kamis (9/5). Dengan keberhasilan ini, Slamet meyakini bahwa pengembangan budidaya nila sistem bioflok merupakan salah satu terobosan untuk meningkatan produksi nila secara nasional maupun guna meningkatkan pendapatan pembudidaya secara signifikan, namun tetap mengedepankan prinsip-prinsip keberlanjutan.

“Penerapan teknologi ini terbukti efektif dan efisien dalam penggunaan sumberdaya air dan lahan serta adaptif terhadap perubahan iklim. Sedangkan ikan nila sendiri merupakan salah satu komoditas air tawar yang potensial untuk dikembangkan karena tahan terhadap perubahan lingkungan, pertumbuhannya cepat serta lebih resisten terhadap penyakit. Jadi ini memang kombinasi yang sangat tepat,” ujar Slamet.

“Ikan nila semakin diminati masyarakat sehingga permintaan pasar meningkat tinggi, selain untuk konsumsi lokal juga merupakan komoditas ekspor terutama ke Amerika Serikat dalam bentuk fillet. Oleh karena itu produktivitasnya harus dipacu terus-menerus,” lanjut Slamet.

Slamet juga menjelaskan bahwa penguasaan teknologi budidaya nila bioflok kini terus diperluas di berbagai daerah melalui unit pelaksana teknis (UPT) perikanan budidaya.

“Teknologi bioflok di masyarakat akan terus dikawal UPT-UPT dan para penyuluh agar tidak keliru menerapkannya, juga harus diterapkan secara benar sesuai kaidah-kaidah cara budidaya ikan yang baik seperti penggunaan benih unggul, pakan sesuai SNI, serta monitoring kualitas air budidaya,” pesannya.

Slamet meyakini teknologi ini juga mampu menjamin tersedianya sumber protein yang harganya terjangkau oleh sebagian besar masyarakat, guna memperbaiki gizi masyarakat, selain dapat menyediakan lapangan kerja.

Sementara itu, Syamsul Bahari ketua kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) Indra Makmur Sukabumi, menuturkan bahwa selain keuntungan di atas, ikan nila yang dihasilkannya juga lebih gemuk dengan komposisi daging (karkas) lebih banyak serta kandungan air dalam daging lebih sedikit.

Lebih lanjut ia merinci biaya investasi yang dikeluarkannnya yakni untuk pembuatan kolam beton ukuran 15 m3 sebesar Rp. 2 juta dan pompa air Rp. 500 ribu. Sedangkan biaya operasional untuk benih sebanyak 1.500 ekor, pakan 283,5 kg dan probiotik dan molase sebanyak 3 liter, serta kebutuhan listrik, sehingga total biaya operasional sebesar Rp. 3,9 juta.

Dengan periode pemeliharaan selama 3 bulan produksi nila yang dapat diperolehnya mencapai sebanyak 270 kg, dengan ukuran panen 200 gr per ekor. Jika harga per ekor Rp. 26 ribu maka pendapatan kotor sebesar Rp. 7 juta.

“Keuntungan bersih budidaya ikan nila sistem bioflok yang dapat saya peroleh dari setiap kolam mencapai Rp. 3,1 juta per siklus, saya memiliki 10 unit kolam dengan rincian 2 bak tandon dan 8 kolam budidaya sehingga pendapatan bersih selama periode budidaya yang saya lakukan dapat mencapai Rp. 24,8 juta”, sambungnya.

Syamsul juga bercerita bahwa air media budidaya hanya sekali dimasukkan dalam wadah budidaya dan dapat digunakan sampai panen, penambahan air hanya untuk mengganti penguapan dan pengontrolan kepadatan.

“Dengan budidaya nila sistem bioflok ini menjadi sumber pendapatan keluarga bagi pembudidaya dan pihak-pihak lain yang terkait dengan usaha ini, karena hasilnya dapat dijual ke usaha perdagangan ikan, rumah makan, jasa rekreasi pemancingan, pengolahan fillet dan lainnya,” tambah Syamsul.

Untuk diketahui, produksi ikan nila secara nasional cukup menggembirakan karena terus mengalami peningkatan, produksi tahun 2016 sebesar 1.114.156 ton, sedangkan tahun 2017 meningkat menjadi 1.265.201 ton. Produksi hingga triwulan III tahun 2018 tercatat 579.688 ton.

Sentra budidaya ikan nila di Indonesia diantranya Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sulawesi Utara dan Sumatera Utara, dimana secara berurutan pada tahun 2017 produksinya yakni 344.583,06 ton; 160.594,19 ton; 114.391,16 ton; 91.571,39 ton; dan 51.228,37 ton.

Salam dari Kami de’PAPUYU Farm Banjarbaru.

www.depapuyu-farm.com

Sumber berita : https://kkp.go.id/djpb/artikel/10905-pembudidaya-rasakan-manfaat-yang-berlipat-dari-budidaya-nila-sistem-bioflok

Sumber foto : https://www.google.com/search?q=budidaya+bioflok+ikan+nila&safe=strict&client=ms-android-samsung&tbm=isch&prmd=nvi&source=lnms&sa=X&ved=0ahUKEwiCra7cuZXkAhVS4nMBHZAkBpQQ_AUICigD#imgrc=UoAWS5wJwdMYEM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *