Hilmi Arifin, Sosok Dibalik Makin Populernya Bioflok di Banua

www.depapuyu-farm.com – Beberapa tahun terakhir, budidaya perikanan dengan teknologi sistem bioflok di beberapa wilayah di Kalimantan Selatan mulai ramai dijalankan oleh masyarakat.

Penggunaan teknologi sistem bioflok dalam budidaya ikan ini, karena dianggap lebih effesien dan efektif karena hanya membutuhkan lahan sempit dan modal yang relative kecil serta keuntungan yang didapat tidak kalah dibanding budidaya ikan secara konvensional di danau maupun sungai.

Makin diminatinya usaha budidaya ikan dengan teknologi sistem bioflok karena sistem bioflok memiliki sejumlah keunggulan, seperti meningkatkan kelangsungan hidup (survival rate/SR) hingga lebih dari 90 persen dan tanpa pergantian air. Air bekas budidaya juga tidak berbau, sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitar dan dapat disinergikan dengan budidaya tanaman misalnya sayur-sayuran dan buah-buahan tersebut, tidak bisa dilepaskan dari sosok Hilmi Arifin.

Melalui usaha pelatihan budidaya ikan dengan system bioflok dengan brand de’Papuyu Farm yang berpusat di Kota Banjarbaru, Hilmi Arifin telah menularkan kesukseskan bagi puluhan atau bahkan ratusan warga dalam budidaya perikanan dengan system bioflok.

Bukan hanya perorangan dan kelompok, Hilmi Arifin yang tercatat merupakan salah satu pejabat di Pemkab Balangan ini, juga menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah di berbagai wilayah Kalsel dan Kalteng dalam memberikan pelatihan dan bimbingan bagaimana cara budidaya ikan dengan teknologi sistem bioflok beserta menejemen usahanya.

Tentu apa yang dilakukan Hilmi Arifin melalui wadah pelatihan de’Papuyu Farm yang didirikannya menjadi secercah harapan mewujudkan ketahanan pangan dari sektor perikanan bagi daerah ini yang kian hari harapan itu makin berat untuk diwujudkan, terlebih tanpa program dan dukungan serta kerja keras pemerintah.

Sosok seperti Hilmi Arifin pun perlu diapresiasi keberadaanya, karena bukan hanya sekedar fokos memberikan pelatihan (teori) saja, tapi ternyata melalui de’Papuyu Farm miliknya juga sudah terlebih dahulu menjalankan usaha budidaya perikanan khususnya jenis ikan Pupuyu (betok) dengan system bioflok tersebut.

Inilah mungkin kelebihan dari Hilmi Arifin yang kini memasuki usia kepala empat, dibanding wadah pelatihan lainnya yang lebih banyak bermain di meteri dan teori tanpa ada hasil praktek yang bisa dilihat langsung oleh peserta pelatihan.

Meski makin diminati dan menjanjikan keuntungan dalam budidaya perikanan, namun Hilmi Arifin mengingatkan agar teknologi bioflok di masyarakat bisa dikawal keberadaannya oleh pemerintah, khususnya oleh UPT-UPT (unit pelaksana teknis) dan para penyuluh agar tidak keliru menerapkannya, juga harus diterapkan secara benar sesuai kaidah-kaidah cara budidaya ikan yang baik seperti benihnya harus unggul, pakannya harus sesuai standar SNI, parameter kualitas air seperti oksigen juga harus tercukupi.

Selain itu, ayah dua anak ini juga berharap pemerintah tak akan berhenti untuk melakukan inovasi dalam menciptakan teknologi budidaya perikanan. Terlebih, saat ini fenomena perubahan iklim, penurunan kualitas lingkungan global, dan pertambahan penduduk terus menjadi tantangan bersama yang tidak bisa dihindari.

Bagi kita masyarakat umum, tentu mendambakan makin banyaknya sosok seperti Hilmi Arifin bermunculan. Sosok yang mempunyai dedekasi tinggi dalam membantu masyarakat mewujudkan perekonomian yang baik, melalui usaha yang mampu dijalankan masyarakat secara perorangan maupun kelompok.

Sehingga kedepan, masyarakat makin banyak pilihan jenis usaha yang bisa dilakukan yang pada gilirannya tentu perekonomian warga makin baik dan kemandirian ekonomi daerah juga makin kuat.(*)

Salam Bioflok dari Kami de’PAPUYU Farm.
www.depapuyu-farm.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *